Sabtu, 16 Juli 2011

 
 

Komunitas ini lebih dulu ada di Malaysia: Obedient Wives Club atau Klub Istri Taat Suami (KTS). Tadi malam klub tersebut di-launching secara resmi di salah satu restoran di Jakarta Selatan. Benarkah jumlah anggotanya sudah mencapai ratusan orang? Apa saja yang diajarkan kepada para anggotanya? 

Tadi malam puluhan anggota KTS memadati Restoran Sindang Reret, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Para istri itu hadir dengan pakaian dan make-up maksimal. Kebanyakan mengenakan pakaian muslimah yang berwarna pink. Ada pula yang tampil dengan bedak kuning langsat dan maskara yang membuat lentik alis dan bulu mata.

Tempat duduk perempuan dan lelaki dipisahkan. Mereka tak boleh duduk berdampingan, kecuali suami istri. Itulah suasana di acara launching KTS. Setiap meja rata-rata dikelilingi sepuluh kursi. Ada panggung kecil. Hiburan yang ditampilkan adalah lagu-lagu islami seperti musik nasyid.

Salah seorang anggota KTS, Fatimah, menuturkan bergabung dengan KTS pada 1995. Sejatinya, dia sudah ikut komunitas Global Ikhwan (yang memelopori KTS) pada 1994. Namun, karena baru bersuami pada 1995, dia masuk klub pada tahun tersebut. Dulu, terang dia, KTS tidak seperti sekarang, yang sangat terbuka dengan anggota baru. "KTS adalah aktivitas di dalam Global Ikhwan. Sekarang ramai begini karena kami ingin terbuka dan menerima anggota baru," tutur dia.

Perempuan hitam manis dari Palembang itu menambahkan, sebelum menikah, anggota KTS harus melalui berbagai pelatihan. Mulai pelatihan pranikah, pelatihan perkawinan, dan pelatihan pasca perkawinan. Dalam pelatihan pranikah, kegiatan lebih diutamakan pada pembentukan mental istri. Yakni, ditanamkan nilai bahwa ketaatan terhadap suami dilakukan karena kecintaan kepada Allah.

Nah, pelatihan semakin seru saat Fatimah hendak menikah. Pelatihannya semakin konkret dan detail pada hubungan suami istri. Dia diajari cara memuaskan suami di ranjang secara total atau 100 persen. "Harus berani gila-gilaan kepada suami," terang dia.

Bagaimana hubungan gila-gilaan itu? Perempuan 37 tahun tersebut mengibaratkan PSK (pekerja seks komersial) kelas atas ketika melayani tamu. Para PSK itu berani berbuat apa saja karena dibayar. Para anggota KTS juga harus mau diperlakukan apa saja oleh suami ketika berhubungan seks. "Juga kapan pun suami "mau", kita harus melayani. Tidak boleh menolak," ucap ibu tujuh anak tersebut.

Selama ini, terang Fatimah, istri cenderung sungkan. Mereka kerap malu jika suami menuntut hubungan seks yang aneh-aneh. Padahal, papar dia, apa pun gaya seks yang diinginkan suami, istri harus meladeni. Seperti apa gaya yang aneh-aneh itu? "Hanya yang sudah berkeluarga yang boleh tahu," ucap dia sambil tersenyum.

Melayani suami 100 persen itu juga termasuk urusan batin. Kalau suami menginginkan poligami, mau tidak mau istri harus meluluskan permintaan tersebut. Tapi, tetap pada koridor yang sudah ditentukan oleh Islam, yakni mampu bersikap adil. "Kalau tidak mampu, ya hanya satu istri saja," ucap Nur Kemala, anggota lain.

Perempuan molek itu menyatakan bahwa saat ini suaminya memang belum berpoligami. Namun, Nur yang bergabung dengan Global Ikhwan sejak 2003 itu mengatakan sudah siap kalau dimadu oleh sang suami. "Memang belum ada tanda-tanda (suami berpoligami). Tetapi, saya sudah menyiapkan mental untuk itu," tegas dia.

Nur juga menyatakan sudah "mengamalkan" pelayanan kepada suami sepenuhnya itu. Dia mengakui lebih takut kepada Allah dan tidak bisa menjadi istri yang taat kepada suami. Apakah itu bisa menjamin keluarga sehat? Dia mengangguk pasti. Sebab, sampai saat ini belum ada permasalahan di keluarganya.

Nur lebih suka total dalam melayani suami daripada suaminya meleng saat tidak bersamanya. Dia menuturkan bahwa semua itu memang berat. Tapi, itulah yang diminta Allah sebagai Tuhan. Dia juga tidak peduli kalau cara melayani suami tersebut bagi orang lain dianggap melecehkan. "Khawatirkan maraknya prostitusi ketimbang cara kami," terangnya.

Terdengar nakal memang ketika para istri diminta memberikan pelayanan seksual layaknya PSK kelas atas. Namun, totalitas pelayanan seksual kepada suami tidak berarti merendahkan posisi istri. Itu hanya pengandaian. "Seperti dalam keberanian, kita seperti singa, cerdik seperti kancil," ujar Ketua KTS Indonesia Gina Puspita.
Seperti apa pelayanan penuh totalitas itu? Saat meresmikan KTS tadi malam, Gina menjelaskan bahwa hal tersebut harus dilakukan berdasar selera suami. Bukan istri. Selama suami puas, tugas istri telah tertunaikan.

"Seperti saat menikah, wanita tak pernah mewakili dirinya dalam berucap, tapi walinya. Artinya, wanita diciptakan Allah perlu akan kepemimpinan lelaki, baik sabagai ayah maupun suami. Termasuk soal kamar tidur," katanya.

Itulah pesan yang disampaikan KTS. Tentu saja anjuran tersebut membuat para suami yang tergabung dalam Global Ikhwan berbunga. Saat Gina mengatakan pentingnya pelayanan seks, sang suami kerap terlihat mengangguk. Sementara para istri, entah risi karena membahas seks, mereka hanya diam.

Di acara yang didominasi warna pink itu, Gina mengatakan bahwa tubuh indah yang dimiliki istri akan menjadi percuma apabila tidak bisa taat kepada suami. Tidak bisa membuat suaminya puas dan memilih untuk mencari kepuasan seksual di luar. "Itulah yang dimaui Allah. Kalau nggak gitu, nggak usah menikah," katanya.

Beberapa suami terlihat menarik senyumnya saat Gina menuturkan bahwa para suami sudah berseri-seri kalau istri melayani 80 persen saja. Nah, bagaimana kalau dilayani seratus persen alias total? Para suami menarik senyumnya kembali seolah sepakat dengan ucapan ketua KTS itu.

KTS percaya bahwa seorang istri tidak boleh sekadar pandai memasak dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Bahkan, mereka percaya bahwa ketidakpatuhan istri atas suamilah yang mengakibatkan dunia menjadi gonjang-ganjing. Sebab, para suami tidak bahagia di rumah karena pikiran dan jiwanya terganggu.

Menurut Gina, berdirinya KTS semata-mata untuk mengajak umat Islam mengamalkan ajaran Islam secara lengkap. Istri atau calon istri yang bergabung di KTS akan diberi panduan konseling bagaimana membangun sebuah rumah tangga dengan cara islami. "Termasuk pelatihan seksual," tuturnya.

Namun, kali pertama mereka akan dilatih tentang ketakutan kepada Allah dan kecintaan kepada Rasul. Kalau sudah lulus, baru akan diajari bagaimana memuaskan suami di ranjang. "Maraknya pelacuran"terjadi bukan hanya karena masalah ekonomi. Penyebab utama adalah suami mencari kepuasan seks di luar rumah," jelasnya.

Oleh sebab itu, dia mengklaim KTS menjadi solusi persoalan sosial seperti prostitusi dan perceraian. Kebahagiaan di atas ranjang bisa menjadi paling utama. Buktinya, dia yakin, kalau saat menikah sang istri memberikan batasan tidak boleh menyentuh, tentu pernikahan akan batal.

Tidak hanya itu, dia tidak percaya jika menikah bukanlah urusan menghalalkan seks. Sebab, kalau menikah hanya untuk melayani dan memasak, itu bisa dilakukan ibu atau pembantu. Begitu juga urusan melancarkan bisnis, itu bisa dilakukan dengan mencari partner kerja yang tepat.

Lantaran keyakinan menikah hanya untuk urusan ranjang itulah yang membuat pengikut KTS harus tunduk kepada suami. Selama tidak melayani syariat Islam, pelayanan seks yang diinginkan suami, apa pun permintaannya, harus dikabulkan. "Di akhirat banyak wanita yang masuk neraka karena gagal menjadi istri taat suami," ungkapnya.

Menjadi taat kepada suami bukan tidak ada untungnya. Dia mengatakan bakal ada imbalan bagi para istri tersebut. Di antaranya, bakal dimudahkan rezekinya oleh Allah. Dia lantas mencontohkan, suami beristri lebih dari satu dan istri-istri yang taat terhadap keinginan suaminya dikaruniai rezeki yang melimpah. Mereka digandrungi kawan dan lawan karena kaya. Tuhan ikut membangun bisnis mereka," katanya.

Bagaimana respons para suami? Indratmoko, salah seorang pengurus Global Ikhwan dari Ciledug, Banten, mengungkapkan bahwa kesetiaan istri kepada suami sangat berperan dalam kehidupan berumah tangga. Dia yakin, jika istri sangat taat kepada suami, keluarga akan utuh. "Bagaimana pemimpin jika yang dipimpin patuh semua? Pasti pemimpin itu akan lebih baik dalam memimpin," katanya.

Laki-laki beristri dua dengan empat anak itu menambahkan, ketaatan terhadap suami membuat suami tenang dan nyaman. Meski demikian, bukan berarti tidak ada perceraian. Di Global Ikhwan, kata Indra, perceraian tidak bisa benar-benar hilang. "Perceraian tetap ada, tapi ya tidak banyak lah," kata lelaki berewok itu.

Global Ikhwan merupakan gerakan keislaman yang berasal dari Malaysia. Awalnya mereka bernama Darul Arqam. Namun, karena mendapat penolakan dan tekanan dari pemerintah Malaysia, mereka berganti nama. Kelompok tersebut masuk Indonesia pada 1994 dengan membentuk komunitas Islam di berbagai daerah.

Di Indonesia, anggotanya sekarang sekitar 500 orang yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga Papua. Dalam komunitas tersebut, mereka membangun fasilitas kesehatan, pendidikan, pengajian, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Saat ini, kantor pusat mereka berada di Haramain Makkah. "Kalau istri taat suami, rumah tangga akan tenang," kata Indra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar